Katanya Trauma, Baru Seminggu Udah Ada yang Baru


Trauma Tapi Cepet Banget Move On-nya


Di zaman sekarang, kata trauma sering banget dipake buat nutupin banyak hal. Dari hubungan yang berantakan, mantan yang ninggalin, sampe kisah cinta yang baru aja kandas, ujung-ujungnya banyak orang bilang, “Aku trauma.” Kata itu kedengerannya serius, berat, penuh luka batin. Tapi anehnya, kadang baru seminggu kemudian kita lihat orang yang sama udah update story mesra bareng gebetan baru, atau bahkan balikan lagi sama mantan.

Kalau dipikir pakai logika sehat, bukannya trauma itu harusnya butuh waktu lama buat pulih? Harusnya ada fase refleksi, proses menerima, mungkin juga terapi. Tapi kenyataannya, trauma hari ini bisa sembuh dengan cara “nemplok ke orang lain” esok harinya. Dari sinilah drama dimulai—bukan sekadar proses healing, tapi jadi tontonan publik di media sosial.

Kata Trauma yang Jadi Mainan

Sebenernya nggak ada yang salah dengan orang yang bilang trauma. Karena memang, trauma itu nyata. Tapi yang bikin geregetan adalah ketika kata itu jadi sekadar gimmick. Buat sebagian orang, trauma itu bukan luka, tapi lebih ke branding diri. Semacam stiker yang ditempel biar keliatan rapuh, biar dapet perhatian, biar orang lain simpati.

Lucunya, trauma sering dipake kayak alasan universal. Ketika ada yang tanya kenapa cepat balikan, jawabannya: “Aku trauma kalau sendirian.” Waktu ditanya kenapa gampang jatuh ke orang baru, jawabannya: “Aku trauma kalau terlalu lama stuck.” Padahal, kalau kita jujur, itu bukan trauma, tapi lebih ke ketakutan buat sendirian. Dan ketakutan itu dibungkus dengan kata yang lebih keren: trauma.

Komedian Raditya Dika pernah bilang: “Kadang yang kita sebut cinta itu sebenernya cuma kebiasaan. Dan kalau kebiasaan itu hilang, kita bingung, makanya buru-buru nyari penggantinya.” Kutipan ini relevan banget. Banyak orang bukan karena beneran trauma, tapi karena nggak terbiasa kosong. Nggak terbiasa tidur tanpa chat good night. Nggak terbiasa jalan tanpa ditemenin. Jadi, solusinya: cepet-cepet cari pengisi baru.

Drama yang Jadi Hiburan

Coba perhatiin feed media sosial sekarang. Kita sering banget nemu orang yang baru kemarin curhat soal trauma di Twitter, eh besoknya upload foto couple di Instagram. Timeline berubah kayak sinetron. Dari drama air mata, langsung loncat ke drama romantis.

Masalahnya, media sosial itu kan kayak panggung. Banyak orang nggak peduli isi hati aslinya gimana, yang penting citra di depan layar keliatan bahagia. Trauma yang katanya bikin hancur, jadi sekadar episode singkat buat bikin konten. Nggak heran kalau orang luar, kayak kita yang lagi ngincer mereka, jadi bingung campur geregetan. Rasanya kayak ditampar dua kali: satu karena mereka pake trauma buat alasan, satu lagi karena mereka ternyata move on secepet itu.

Sosiolog modern sering bilang kalau generasi sekarang terjebak dalam culture of performativity—alias semua hal harus ditunjukkan. Jadi bukan soal beneran sembuh atau nggak, tapi soal keliatan bahagia atau nggak. Trauma pun jadi bagian dari performa itu.

Salah Mereka atau Salah Kita?

Sekarang pertanyaannya: salah siapa kalau kita jadi ilfeel ngeliat cewek atau cowok yang kita suka bisa move on instan? Salah mereka yang bikin drama, atau salah kita yang berekspektasi?

Kalau mau jujur, jawabannya ada di tengah-tengah. Mereka salah karena sering nggak jujur sama diri sendiri. Kata trauma dipake buat tameng biar nggak keliatan kayak orang yang “gampangan.” Padahal kenyataannya ya memang mereka gampang pindah hati. Di sisi lain, kita juga salah karena terlalu ngarep orang kayak gitu bakal punya keseriusan.

Mungkin kita harus lebih realistis. Orang yang gampang nyebut trauma, gampang juga move on. Dan orang yang gampang move on biasanya nggak terlalu mikirin perasaan orang lain. Jadi kalau kita masih berharap, itu sama aja kayak sengaja masuk ke lingkaran drama yang nggak ada ujungnya.

Move On Cepat Itu Normal, Tapi…

Perlu digarisbawahi juga: move on cepat sebenernya nggak selalu salah. Ada orang yang memang punya daya pulih luar biasa. Ada yang bisa beneran belajar dari masa lalu, nggak terlalu baper, dan langsung buka lembaran baru. Itu sah-sah aja. Yang bikin masalah adalah ketika move on cepat itu dibungkus dengan narasi trauma.

Trauma asli nggak segampang itu. Trauma bisa bikin orang takut deket sama orang baru, susah percaya, atau bahkan menghindari hubungan sama sekali. Jadi kalau ada orang yang seminggu lalu bilang trauma tapi seminggu kemudian udah gandengan tangan di kafe, ya wajar kalau publik ngelihat itu sebagai drama.

Belajar dari Rasa Geregetan

Buat kita yang sering merasa geregetan sama fenomena ini, sebenernya ada pelajaran penting yang bisa diambil. Pertama, jangan gampang percaya sama narasi orang. Media sosial itu penuh dengan citra, penuh dengan kepalsuan yang dibikin semanis mungkin. Kedua, daripada ngabisin energi buat sebel, mending fokus buat upgrade diri. Toh, kalau orang yang kita suka ternyata tipe “trauma instan”, berarti memang bukan orang yang tepat.

Ada pepatah modern yang bilang, “You attract what you reflect.” Kalau kita sibuk ngurusin drama orang, energi kita bakal ketarik ke drama juga. Tapi kalau kita sibuk bangun diri, yang datang ke kita juga orang-orang yang serius dan jujur.

Penutup: Trauma Bukan Alasan, Move On Bukan Pertunjukan

Pada akhirnya, hubungan itu bukan soal siapa yang bisa move on paling cepat, tapi soal siapa yang bisa jujur sama perasaannya. Kata trauma harusnya jadi hal serius, bukan sekadar alasan biar terlihat dramatis. Dan move on harusnya jadi perjalanan personal, bukan tontonan publik yang dipoles dengan filter Instagram.

Kalau ada orang yang trauma tapi seminggu kemudian udah punya pasangan baru, mungkin itu bukan trauma. Itu cuma kebiasaan yang nggak rela hilang. Bukan luka, tapi ketergantungan. Bukan proses, tapi tontonan.

Dan buat kita yang sempet gregetan, mungkin ini saatnya berhenti nonton drama orang lain. Karena hidup kita sendiri jauh lebih penting daripada jadi penonton sinetron cinta yang nggak jelas ending-nya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama