Pembusukan Otak Berhak Menjangkit Semua Kalangan ~ Zein
Belakangan ini sering muncul narasi bahwa fenomena “brain rot” adalah masalah khas Gen Z. Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten receh, singkat, dan minim makna, yang dianggap bikin otak “mager mikir” alias males berpikir panjang.
Namun, apakah benar “brain rot” itu hanya milik Gen Z? Kalau mau jujur, justru semua kalangan, dari Baby Boomer sampai Milenial, juga ikut menikmatinya.
Media Instan Itu Milik Semua Generasi
Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Ibnu Zein (Gen Z):
Media informasi instan (seperti media sosial) hari ini bukan hanya dinikmati oleh segelintir kalangan tapi seluruh kalangan termasuk generasi Baby Boomer, X, dan Milenial. Bahkan algoritma konten receh dengan informasi yang minim cenderung cringe dibuat oleh kalangan generasi di atas Gen Z.
Artinya, konten-konten ringan yang bikin ketawa atau sekadar scroll tanpa mikir, bukan monopoli Gen Z. Kita semua berada dalam satu ekosistem algoritma yang sama. Jadi kalau ada konten receh, kemungkinan besar justru dibuat, disukai, dan diulang-ulang oleh berbagai generasi.
Hoax, Siapa yang Lebih Mudah Tertipu?
Kalau ngomong soal “brain rot”, mari tengok fenomena hoax. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa bukan Gen Z yang paling mudah percaya hoax, melainkan generasi yang lebih tua.
Zein menambahkan:
Akun hoax dengan template seadanya juga mereka (generasi di atas Gen Z) percaya. Padahal dengan caption seadanya, tidak ada deskripsi, resolusi templatenya juga pecah-pecah.
Ini membuktikan bahwa kurangnya literasi digital justru banyak terjadi di luar Gen Z, yang kadang terlalu cepat percaya hanya karena sesuai dengan keyakinan pribadi.
Gen Z: Kerja dan Belajar dari FYP
Narasi bahwa Gen Z cuma doyan scroll nggak sepenuhnya benar. FYP (For You Page) Gen Z sebenarnya lebih kompleks.
Zein menjelaskan:
Kebanyakan Gen Z malah mementingkan kerja daripada scroll terus-terusan. FYP Gen Z kebanyakan isinya informasi penting terkait keuangan, teknologi, politik. Sisanya cuma hiburan. Hiburannya juga kebanyakan informatif. Biasanya isinya meme terselubung yang bikin kita nebak. Biasanya meme sejarah.
Di sini terlihat bahwa Gen Z justru lebih produktif dan informatif dalam menikmati media sosial. Mereka bisa belajar literasi keuangan lewat TikTok, update tren teknologi di Instagram, atau memahami politik lewat meme sejarah. Jadi, hiburan bukan berarti kosong, melainkan ada nilai tambah di baliknya.
Brain Rot Itu Universal
Kalau ditarik kesimpulan, fenomena brain rot adalah bagian dari manusia modern, bukan eksklusif Gen Z. Internet dan media sosial menciptakan pola konsumsi informasi baru yang melibatkan semua generasi. Bedanya hanya soal literasi digital dan cara kita menyaring informasi.
Jadi, alih-alih menyalahkan Gen Z, lebih baik kita sadar bahwa semua kalangan punya kerentanan yang sama. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola informasi agar tetap sehat, bermanfaat, dan nggak jadi korban algoritma.

Posting Komentar