Rakyat Kok Netral?

Di tengah hiruk pikuk politik, kericuhan di jalanan, hingga suara-suara tuntutan yang semakin keras, muncul sebuah pertanyaan sederhana tapi menohok: “Rakyat kok netral?


Rakyat adalah pihak yang paling terdampak dari setiap kebijakan negara. Harga kebutuhan pokok, akses kesehatan, pendidikan, hingga rasa aman di jalanan—semuanya langsung dirasakan oleh rakyat. Namun ironisnya, ketika ketidakadilan terjadi, ketika aparat berhadap-hadapan dengan masyarakat sipil, atau ketika elite politik bermain di belakang layar, sering kali rakyat memilih diam.

Zein, seorang anak muda yang vokal menyuarakan keresahan, menuliskan dengan gamblang:

Rakyat kok netral. Padahal posisinya, dia sebagai rakyat. Emang Anda siapa mau netral?
Kalimat itu mungkin terdengar kasar, tapi ada kebenaran yang sulit dibantah. Bagaimana bisa rakyat—yang justru menjadi objek paling terdampak—bersikap seolah tak peduli?

Ada juga sisi lain yang lebih personal. Zein pernah menuturkan pengalamannya:

Pernah, saya dibilang sok kritis ketika menanggapi sesuatu yang merugikan rakyat. Padahal, saya sedang membela mereka.

Sindiran ini nyata. Suara kritis sering kali dianggap sok tahu, berlebihan, atau mengganggu kenyamanan. Padahal, justru suara-suara seperti itulah yang mestinya menjaga kewarasan publik.

Yang lebih ironis lagi, banyak orang memilih diam bukan karena bijak, melainkan karena takut citra sosialnya terganggu. Seperti yang disindir Zein:

Nggak mau repost template ke story Instagram takut estetika akunnya jelek. Padahal followers cuma 200. Udah gitu akun privat lagi.

Di sinilah letak paradoksnya: rakyat sering kali bersembunyi di balik alasan estetika, kenyamanan pribadi, atau apatisme digital, sementara dunia nyata terus terbakar oleh ketidakadilan.

Perlu diingat: netral tidak selalu netral. Dalam realitas politik, diam adalah sikap. Apatis adalah keputusan. Ketika rakyat tidak bersuara, pihak yang berkuasa akan semakin leluasa menguasai panggung. Dan sekali lagi, yang paling dirugikan adalah rakyat itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang, apakah rakyat akan terus memilih menjadi penonton di tanah sendiri? Apakah kita rela membiarkan nasib bangsa ditentukan segelintir orang sementara suara mayoritas terkunci dalam “netralitas”?

Netral boleh jika tujuannya menjaga perdamaian. Namun jika netral berarti membiarkan ketidakadilan terus tumbuh, maka itu bukan lagi sikap bijak, melainkan bentuk penyerahan diri.

Di tengah kericuhan hari ini, barangkali sudah saatnya rakyat bertanya pada diri sendiri: apakah benar kita bisa tetap netral, sementara masa depan yang dipertaruhkan adalah hidup kita sendiri?


Post a Comment

أحدث أقدم