Di era serba digital kayak sekarang, rasanya aneh kalau masih ada lulusan IT yang terjebak dalam skema ponzi atau investasi bodong. Bukannya mereka yang harusnya paling melek teknologi, paling paham cara kerja sistem digital, dan paling jago baca “modus” online? Tapi faktanya, nggak sedikit sarjana IT justru jadi korban.
Nah, pertanyaannya: ini salah individunya yang “gelarnya doang keren tapi isinya zonk”? Atau sebenarnya ada faktor sosial-politik yang bikin jebakan ini makin subur?
Sarjana IT dan Ilusi Gelar
Gelar sarjana IT sering dianggap “jaminan mutu”. Orang tua bangga, masyarakat kagum, bahkan perusahaan kadang terjebak sama label “S.Kom”. Tapi realitanya, nggak semua lulusan IT punya critical thinking dan problem solving yang tajam.
Ada yang jago hafalan teori, tapi miskin praktik. Ada yang bisa bikin program sederhana, tapi gampang “blank” ketika ketemu kasus real. Lebih parah lagi, ada yang merasa dirinya tech savvy hanya karena bisa install aplikasi atau ngoding dikit-dikit.
Ketika berhadapan dengan tawaran investasi bodong, alih-alih skeptis, malah jadi “FOMO” (Fear of Missing Out). Ujung-ujungnya, yang harusnya ngerti logika digital malah gampang dikelabui logika palsu.
Skema Ponzi dan Cermin Sosial
Kalau dipikir-pikir, skema ponzi itu bukan cuma bisnis bodong, tapi juga semacam miniatur sistem sosial kita.
- Ada “bos besar” yang janji manis.
- Ada “downline” yang jadi korban.
- Ada hype yang bikin orang percaya tanpa mikir.
Model ini mirip banget dengan politik kita: elit kasih janji sejahtera, rakyat jadi pendukung setia, lalu realisasinya? Ya gitu-gitu aja.
Artinya, sarjana IT yang kena jebakan ponzi sebenarnya cuma bagian dari masyarakat yang lebih luas. Mereka bukan sekadar korban “kurang pintar”, tapi juga korban dari kultur sosial-politik yang sejak awal terbiasa dengan janji palsu.
Kenapa Lulusan IT Bisa Jadi Korban?
- Euforia Gelar
Banyak lulusan IT yang merasa “paling paham dunia digital” sehingga ego menutupi nalar.
- Minim Literasi Keuangan
Paham coding belum tentu paham investasi. Banyak yang tergoda angka profit tinggi tanpa mengukur risiko.
- Budaya Instan
Seolah-olah dunia IT itu identik dengan “jalan pintas kaya”. Padahal kenyataannya, dunia teknologi juga butuh proses panjang.
- Lingkungan Sosial
Kalau teman, keluarga, bahkan atasan ikut nimbrung ke ponzi, rasa ragu bisa hilang. Lingkungan sering lebih kuat dari logika.
Pendidikan vs Sistem Sosial Politik
Di sinilah dilema muncul: apakah ini murni soal kualitas SDM (yang berarti pendidikan IT kita bermasalah), atau lebih ke sistem sosial politik kita yang membiasakan masyarakat hidup dalam skema semu?
Kalau pendidikan, berarti kampus masih terlalu fokus sama teori, kurang ngajarin literasi digital yang kritis. Padahal, paham algoritma doang nggak cukup kalau otaknya masih gampang dibohongi janji manis.
Kalau sosial-politik, berarti ada sistem yang membiarkan “budaya ponzi” hidup subur: dari janji politisi, praktik birokrasi, sampai gaya hidup masyarakat. Lulusan IT pun akhirnya jadi bagian dari lingkaran itu.
Satir Kecil: Ponzi adalah Politik Kita
Jujur aja, kalau kita buka mata, skema ponzi itu mirip banget dengan janji-janji politik di negeri ini:
- “Investasi suara sekarang, keuntungan lima tahun kemudian.”
- “Kalau nggak ikut, rugi, bro!”
- “Yang atas makin kenyang, yang bawah cuma jadi penonton.”
Bedanya, kalau ponzi keuangan bisa dipenjara, kalau ponzi politik malah bisa naik jabatan. Ironis, kan?
Penutup: Waktunya Ngaca
Kasus sarjana IT yang terjebak ponzi seharusnya jadi cermin buat kita semua. Bukan sekadar ngetawain “sarjana kok bego”, tapi juga refleksi:
- Pendidikan tinggi kita apakah benar-benar membentuk nalar kritis?
- Atau justru masyarakat kita terlalu nyaman hidup dalam janji-janji palsu?
Jangan sampai, generasi IT yang harusnya jadi garda terdepan menghadapi era digital, malah ikut hanyut dalam budaya “asal percaya”. Karena kalau itu terjadi, kita nggak cuma kalah di bidang teknologi, tapi juga terus terjebak dalam skema sosial-politik yang menjerat bangsa ini.

إرسال تعليق